Untuk mengetahui potensi revolusioner kaum marhaen sendiri, kita mesti mengetahui siapa saja kah yang termasuk dalam golongan seorang “marhaen”? Marhaen, atau “wong cilik”, adalah nama untuk ragam kelompok yang memiliki satu kesamaan, yakni kelompok yang dimangsa oleh sistem eksploitatif dibawah neoliberalisme, neokolonialisme, dan neoimperialisme. Mereka yang dapat dipanggil sebagai seorang “marhaen” adalah mereka yang memiliki alat produksi sendiri namun melarat/miskin/berkebutuhan. Para marhaen, diantara yang lain ialah; buruh pekerja (termasuk buruh tani), petani kecil, pedagang kaki lima/keliling, pengrajin kecil, dan pegawai-pegawai toko. Dalam pemikiran sosialis klasik, marhaen dapat dikategorikan sebagai small-holding peasants (petani kecil) atau petty bourgeoisie (borjuis kecil), dan semi-proletariat dalam kelas semi-owner. Dalam kemasyarakatan agraris—seperti Indonesia—kaum marhaen lah yang memiliki kekuatan revolusioner. Kaum marhaen memiliki kekuatan revolusioner dikarenakan penderitaan mereka sebagai buruh, maupun produsen kecil yang dieksploitasi oleh pajak, dan tunjangan kapitalis yang mencekik untuk melengkapi defisit ekonomi mereka.

Kaum marhaen sendiri adalah kaum yang dikelilingi oleh suatu paradoks. Mereka adalah bagian dari kedua kelas pemilik (owning class) dan kelas yang tertindas (opressed class). Mereka memiliki alat produksi, bahan, serta tanah, yang dapat mengkategorikan mereka sebagai kaum petty bourgeois yang memiliki nilai kebebasan serta alat produksi. Kaum marhaen sendiri didefinisikan dengan kepemilikan alat produksi namun dengan skala yang sangat kecil dimana mereka tidak dapat menghasilkan surplus value dari produksi mereka. Quota agar kepemilikan marhaen dapat disebut sebagai “kapital,” adalah kepemilikan tersebut harus mencukupi untuk mempekerjakan orang lain dan memperoleh keuntungan dari hasil kerja orang lain tersebut. Namun, kaum marhaen sendiri hanya memiliki alat produksi seperti cangkul, ataupun sebidang tanah yang kecil. Hal-hal tersebut adalah properti produktif yang hanya berfungsi sebagai alat eksploitasi diri atau pembudakan diri sendiri.

Seorang marhaen, misalnya petani kecil ataupun pedagang keliling, akan bekerja hampir sepenuh hari, membanting tulang mereka karena mereka memiliki bisnis dimana mereka sendiri menggunakan alat yang primitif atau berskala kecil yang menghasilkan sedikit produktivitas. Seorang marhaen akan memiliki lahan sebesar satu hektar yang hanya dipekerjakan oleh seorang marhaen itu sendiri daripada buruh kerja, dibandingkan seorang kapitalis yang memiliki lahan sebesar lima-puluh hektar yang dipekerjakan oleh buruh tani lain. Seorang marhaen harus bekerja lebih keras untuk menghasilkan surplus value itu sendiri. Seorang marhaen hanya memiliki jumlah kepemilikan untuk subsistensi mereka sendiri, alias, untuk hidup. Sementara, seorang kapitalis memiliki jumlah kepemilikan untuk mengakumulasi alias mengembangkan kepemilikan properti mereka. Status kepemilikan seorang kapitalis dibandingkan oleh seorang marhaen, adalah bahwa kemiskinan seorang marhaen bersifat stagnan. Jika kita membayangkan seorang marhaen sebagai si petani dengan lahan sebesar satu hektar, maka kita dapat membayangkan dimana ketika lahan tersebut memproduksi suatu hasil, hasil itu sendiri akan habis untuk subsistensi marhaen itu sendiri tanpa surplus value. Jika satu hektar itu hanya cukup untuk menghasilkan kantung nasi untuk mencukupi kalori keluarga seorang marhaen dan membayar anggaran yang dibutuhkan untuk satu tahun kedepan, maka lahan tersebut termasuk kepemilikan bersifat statis dan konsumtif. Lahan tersebut tidak dapat dijual untuk mengembangkan alat produksi si petani karena jika lahan tersebut dijual, maka si petani akan memiliki defisit dalam subsistensi si petani ataupun keluarga si petani sendiri. Di sisi lain, jika kita membayangkan seorang kapitalis dengan lahan sebesar lima-puluh hektar, maka lahan tersebut dapat memproduksi surplus value berskala besar yang dapat diliquidasi sebagai uang, upah buruh, investasi untuk mengembangkan alat produksi, atau bahkan sebagai jaminan untuk pinjaman uang dari bank agar si kapitalis dapat membeli lahan sebesar 50 hektar lagi. Dibandingkan kepemilikan seorang marhaen, kepemilikan seorang kapitalis tidak statis, dimana kepemilikan tersebut tidak memiliki cukup nilai untuk berkembang dengan sendirinya.

Dalam suatu pasar, surplus value dari produksi seorang marhaen akan diekstrak oleh pasar itu sendiri, sebagaimana seorang kapitalis mengekstrak surplus value dari buruh kerja. Namun, marhaen sendiri memiliki status sebagai pemilik, yang memaksakan mereka sendiri untuk bekerja lebih keras selayaknya seorang budak. Sebagai seorang pemilik, seorang marhaen memiliki mesin psikologis yang mendorong mereka untuk bekerja lebih keras. Mereka akan bekerja hampir sepenuh hari, tidak makan, atau bahkan merelakan bekerja saat kondisi sedang sakit didorong oleh kebutuhan untuk memenuhi kecukupan hidup atau subsistensi mereka sendiri. Mesin psikologis inilah yang mendorong seorang marhaen untuk bekerja keras dalam sistem yang tidak memberi mereka keuntungan sama sekalipun. Dalam sistem neoliberal, jika alat produksi seorang pekerja rusak, maka pemilik, atau penanggung jawab harus membayar kerusakan alat produksi mereka. Namun, jika alat produksi seorang marhaen rusak, maka mereka sendiri lah yang bertanggung jawab atas kerusakan tersebut. Jika mereka memiliki cukup anggaran untuk mengganti atau memperbaiki kerusakan alat produksi mereka, maka mereka dapat melanjutkan kehidupan mereka sebagai pekerja tenaga tetap. Jika mereka tidak memiliki anggaran yang cukup, maka mereka hanya bisa meminta tunjangan dari seorang kapitalis, dalam bentuk hutang, yang seringkali dapat menghasilkan bunga yang mencekik seorang marhaen sendiri. Kepemilikan tanah maupun alat produksi seorang marhaen hanya membuat mereka sebagai tenaga kerja tetap daripada seorang kapitalis. Alat produksi mereka hanya manifestasi dari hasil kerja marhaen, yang mereka butuhkan untuk bekerja sekarang dan di masa yang akan datang. Dibandingkan suatu bisnis, seorang marhaen, mereka tidak dapat digantikan, sebagaimana suatu mesin, mereka hanya bisa mengelola kemiskinan mereka dengan cara merelakan kesehatan dan kemampuan mereka agar bisnis kecil atau satu petak tanah mereka dapat memproduksi untuk hari esok. Seorang marhaen perlu memikirkan defisit anggaran mereka, dimana mereka perlu menghitung berapa banyak uang yang harus dikeluarkan untuk mengganti alat produksi, yang bahkan kadang atau seringkali diambil dari uang subsistensi keluarga mereka sendiri. Sistem kapitalis ini mendorong ribuan bahkan jutaan marhaen untuk berkompetisi dengan marhaen yang lain dalam produksi skala kecil sebagai borjuis kecil, yang pada akhirnya akan mendorong penurunan harga produk itu sendiri, yang akhirnya akan dieksploitasi oleh neoimperialis yang membeli produk mereka.

Sistem yang memenjarakan kaum marhaen dalam kemiskinan, terjadi karena status mereka sebagai pemilik yang didorong oleh sistem neoliberal dalam suatu ruang yang dicurangi oleh kekuatan eksternal. Seorang marhaen sendiri harus memikirkan serta mempertimbangkan antara biaya produksi dan harga jual. Pada masa modern, seorang marhaen sekarang tidak lagi memiliki kuasa atas alat produksi mereka, namun lebih tepatnya, mereka harus membeli alat produksi mereka dari tangan monopoli global dan konglomerat. Surplus value seorang marhaen tidak diambil setelah panen atau produksi dari alat produksinya, namun dari titik awal dimana si marhaen tersebut memulai produksi dari monopoli harga alat produksi pada harga yang tinggi untuk menetapkan seorang marhaen tersebut memulai dengan anggaran yang ditunjangi oleh hutang. Dikarenakan monopoli harga tersebut, permintaan seorang marhaen dengan alat produksi mereka dinilai inelastis dalam standar ekonomi. Seorang marhaen tidak dapat mensubstitusi alat produksi mereka tanpa penurunan hasil produksi yang signifikan, karena dalam permintaan seorang marhaen dalam alat produksi, tersebut tidak ada substitusi yang layak, dimana seorang marhaen harus membayar sebesar apapun yang diminta oleh monopoli. Belum lagi mempertimbangkan bagaimana harga produksi seorang marhaen adalah harga nafkah dan swasembada mereka sendiri. Seorang marhaen tidak dapat menggulung tikar hidup mereka sendiri sebagaimana suatu bisnis menggulung tikar saat harga produksi menjadi terlalu mahal, karena harga produksi itu sendiri adalah harga yang dibutuhkan untuk menghasilkan keberlangsungan seorang marhaen dan keluarganya. Seorang marhaen akan lanjut membeli alat dan bahan produksi bahkan pada harga yang merugikan mereka sendiri, dengan cara membayar defisit itu dengan kondisi mereka, seperti bekerja lebih lama, dan mengurangi kalori per hari. Dalam suatu skenario, jika harga pupuk petani naik sebesar 20%, sesuai hukum marginal utility, maka si petani harus mengalokasi pendapatan mereka untuk memaksimalkan utilitas pendapatan mereka. Seorang petani seringkali tidak mengalokasi pendapatan mereka dengan mengurangi pembelian mereka sebesar 20%, namun mereka akan mengurangi pembelian swasembada mereka sebesar 20% untuk mencukupi harga alat dan bahan produksi.

Bagaimana kondisi dari kelompok-kelompok marhaen dalam masyarakat Indonesia saat ini? Bagaimana cara kerja eksploitasi sistematis neoliberalisme kepada kelompok marhaen?

Sebagai seorang petani kecil, ia adalah marhaen yang harus menganggarkan 100% modal mereka sebelum mendapatkan hasil dari produksi mereka. Modal seorang marhaen berada dalam status dimana modal mereka terikat dan tidak menghasilkan likuiditas dalam proses produksi tersebut dalam jangka waktu panjang. Agar si petani kecil dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, maka ia harus mendapatkan tunjangan konsumsi dari kapitalis yang akan mengeksploitasi periode tunggu hasil panennya yang rentan akibat siklus produksi yang panjang. Saat masa panen sudah datang, hasil produksi si petani kecil sudah menjadi suatu hutang berbunga yang harus dibayar, alhasil mengambil nilai surplus si petani tersebut untuk mencukupi swasembada petani kecil sebelum masa panen. Neoliberalisme sendiri dapat mengalihkan risiko keriangan pasar dengan cost-price squeeze kepada pemilik kecil seperti si petani kecil dengan biaya produksi yang statis namun harga jual yang volatil. Hasilnya, eksploitasi sistematis proses pertumbuhan lahan tani mengakibatkan kepemilikan nilai kepemilikan petani kecil ini adalah nil, dikarenakan ketidakmampuan seorang petani kecil untuk sepenuhnya menghasilkan profit tanpa membayar harga produksi dan subsistensi mereka kepada oligopoli global.

Selain eksploitasi sistematis, ada juga seorang “tengkulak”, yakni orang tengah yang mengekstrak hasil kerja si petani dengan memberi “jalan alternatif” pada produk hasil si petani pada pada harga yang akan mencukupi subsistensi si petani. Para tengkulak ini mengeksploitasi kekurangan logistik si petani yang tidak dapat menyimpan hasil panen secara optimal dikarenakan kekurangan tempat penyimpanan atau kebutuhan si petani dalam jangka pendek. Si petani pada akhirnya terpaksa harus menjual produk mereka pada harga yang relatif murah kepada para tengkulak ini. Secara efektif, merampok para petani dari nilai produk mereka. Si tengkulak secara teori memiliki properti yang bersifat liquid daripada properti marhaen yang bersifat stagnan. Dikarenakan produk si petani kecil yang mudah busuk, seperti sayuran, nasi, buah-buahan, maka waktu itu sendiri akan dijadikan alat eksploitasi. Maka pasar neoliberal akan menjanjikan harga pasar kepada mereka yang memiliki waktu. Namun, si petani kecil, seorang marhaen tidak dapat menunggu karena kebutuhan mereka yang sangat cepat untuk memenuhi subsistensi mereka, yang berarti mereka harus menerima permintaan pertama dimana mereka akan menjual murah. Terdapat cara lain para tengkulak dapat mengeksploitasi hasil produksi petani kecil dengan peminjaman/hutang tanpa bunga, dengan harga produk yang lebih rendah pada musim panen kedepan.

Sementara itu, buruh tani, ialah mereka yang tidak memiliki alat maupun bahan produksi yakni hanya nilai kerja berbentuk fisik. Mereka ialah kaum marhaen yang paling terproletarisasi. Seorang buruh tani adalah ia yang bekerja dari satu lahan ke lahan lain berdasarkan kebutuhan tuan tanah. Buruh tani tidak memiliki kontrak, ataupun alat produksi. Seringkali, mereka terpaksa menyewa alat produksi dari tuan tanah, dimana mereka dieksploitasi sekaligus secara pekerja dan penyewa dalam proses produksi. Kapitalis akan mengeksploitasi kerentanan kelompok buruh tani untuk menciptakan sistem kerja tanpa jaminan sosial atau upah minimum untuk fleksibilitas. Mereka dapat juga menjadi korban dari anarki pasar global yang mengeksploitasi harga pangan, korban dari ketidakmampuan petani kecil untuk memberikan upah yang layak, dan korban penyewaan dari sistem rentenir. Mereka adalah kelompok marhaen yang sangat rentan terhadap jurang kemelaratan yang absolut.

Seorang pedagang keliling, adalah kelompok marhaen yang memiliki alat produksi mereka sendiri. Mereka memiliki kemiripan dengan kelompok petani kecil. Namun, mereka bekerja dalam ruang perkotaan dibantung ruang agrarian. Dengan suatu gerobak, atau motor sebagai alat produksi, mereka tidak memproduksi bahan mentah untuk dijadikan alat dan bahan produksi mereka sendiri. Alhasil, mereka terpaksa terjerumus ke dalam monopoli barang dari distributor global berskala besar. Sebagai pedagang keliling, mereka tidak dapat menaikkan harga jual produk mereka jika konsumer mereka sendiri ialah kelompok dari marhaen. Secara visual, seorang pedagang keliling terlihat sebagai pengelola usaha mandiri. Namun, mereka juga ialah bagian eksploitasi sistemik. Mereka adalah buruh distribusi yang dieksploitasi oleh korporasi besar, dan juga keterbatasan daya beli konsumen yang juga sesama kaum marhaen. Jika harga jual produk dinaikkan, maka konsumer akan berhenti membeli. Pedagang keliling tidak hanya diperas oleh meningkatnya harga grosir dari oligopoli, namun juga harga jual yang memiliki harga batas ritel yang relatif rendah dan tetap. Si pedagang keliling juga dikelilingi dengan fakta bahwa keberadaan produksi mereka berstatus ilegal dan tidak pasti. Seorang pedagang keliling tidak memiliki tempat dimana mereka bekerja. Ini menyebabkan harga sewa informal seperti pungutan liar pada aparat korup hanya untuk menjual barang di samping jalan. Tidak membantu juga bahwa pedagang keliling dilihat sebagai “penyakit” yang harus dihapuskan. Keamanan dari membayar pungutan liar tidak menutup kemungkinan bahwa alat produksi si pedagang keliling dapat disita oleh Satpol PP, alias pemerintah. Pedagang keliling tidak bisa berhenti berdagang meski harga modal naik. Hal ini dikarenakan modal hanyalah satu-satunya pemenun subsistensi si pedagang keliling. Setiap nilai surplus yang dihasilkan oleh si pedagang keliling akan habis untuk alat dan bahan produksi. Dengan logika survival economics, sama seperti kelompok petani kecil, mereka tidak memiliki substitusi dibawah oligopoli, karena pekerjaan mereka hanyalah satu satunya cara untuk mencukupi hidup mereka. Alat produksi seorang pedagang keliling bersifat stagnan dan tidak dapat dikonversi dengan cepat. Permintaan mereka terhadap alat dan bahan produksi pun tetap tinggi dan tidak tergoncangkan seberapa tinggi harga tersebut. Seperti si petani kecil, daripada menurunkan output dari kenaikan biaya, justru kaum marhaen akan meningkatkan output tenaga kerja karena subsistensi marhaen.

Para pengrajin kecil, mereka adalah kelompok marhaen yang kontras dengan petani maupun pedagang. Pada umumnya, mereka dikategorikan sebagai kelas artisan atau borjuis kecil urban. Dibandingkan oleh buruh pabrik atau seorang kapitalis, mereka ialah produsen independen dengan alat produksi mereka sendiri, namun tanpa kekuatan akan pasar. Para pengrajin kecil terikat pada keterampilan khusus yang justru menjadi mangsa kapitalisme dalam rantai pasok global. Pada dasarnya, mereka memiliki ruang kerajinan dan alat kerajinan mereka sendiri, contohnya seperti mesin jahit atau meja ukir. Mereka memiliki ketergantungan dari kekurangan kapital untuk membeli bahan mentah ataupun relasi untuk menjual karya mereka pada harga yang lebih mahal atau profitable. Walaupun si pengrajin ialah orang yang memiliki dan membayar ruang kerja mereka sendiri, seringkali bisnis kapitalis besar yang mengambil profit dari produk final si pengrajin karena status mereka sebagai tenaga kerja alih daya. Para pengrajin juga hanyalah buruh bagi koporasi besar melalui suatu sub-kontrak.

Para pengrajin kecil sendiri ditindas oleh sistem kapitalis yang menghancurkan nilai keahlian para pengrajin itu sendiri. Para pengrajin dipaksa untuk melakukan kanibalisme ekonomi terhadap dirinya sendiri, karena persaingan dengan barang produksi masal pabrikan, atau teknologi generative pada abad ke-21. Hal inilah yang mendorong para pengrajin untuk menekan harga jual ke titik subsistensi, yang berarti mereka harus mengkompensasi margin nilai surplus yang hilang, ditambah oleh waktu kerja yang berlebih. Peran kapitalis-kapitalis dalam mengeksploitasi kelompok pengrajin kecil adalah bagaimana mereka memindahkan risiko operasional kepada pengrajin kecil itu sendiri. Misalnya, biaya penanggung jawaban alat produksi pengrajin kecil sepenuhnya ditanggung oleh pengrajin kecil itu sendiri, sementara nilai surplus dari hasil produksi akan diambil oleh pemilik merek atau distributor skala besar. Pada akhirnya, kembali lagi dimana permintaan pengrajin terhadap alat dan bahan produksi spesialisasi mereka, menjadi penjara mobilitas sosial mereka dimana mereka tidak dapat berhenti atau beralih pasar dengan cepat karena skenario dimana modal hidup mereka telah diinvestasikan pada alat produksi statis sebagai pengrajin. Mereka pun harus terus berproduksi demi menjaga agar mereka dapat memenuhi swasembada mereka.

Pegawai, atau lebih sering pegawai toko, mereka kelompok marhaen urban yang bekerja dibawah toko, warung makan, atau warung kopi, untuk mendukung ekonomi mereka atau keluarga mereka. Terkadang mereka akan mendapatkan kenaikan gaji setiap beberapa tahun diatas gaji mereka yang sedikit, kadang berdampingan dengan kenaikan harga komoditas sekaligus. Mereka kurang lebih memiliki status yang setara dengan pekerja miskin dan pengrajin kecil, dan juga memiliki potensi revolusioner yang signifikan dikarenakan kerentanan mereka terhadap prekaritas dan bagaimana mereka melihat secara langsung kemakmuran sang majikan kapitalis setiap hari, kontras dengan kehidupan si pegawai sendiri. Mereka tidak memiliki alat produksi namun kemampuan pelayanan sosial. Ketidakpastian mereka jatuh kepada risiko yang tidak dapat diprediksi, jika mereka jatuh sakit, maka mereka tidak lagi memiliki pelayanan yang bisa dijual. Seorang pegawai toko setiap hari dibebani oleh kepatuhan total, serta dikelilingi oleh kontradiksi dimana mereka mengelola kemakmuran sang majikan walaupun mereka tidak memiliki bagian dari nilai surplus yang dihasilkan. Setiap hari, mereka memindai dan menjaga alat produksi atau komoditas majikan mereka selama setengah hari, yang berarti mereka memiliki akses namun bukan hak dari nilai alat produksi tersebut. Seringkali, kerusakan atau kehilangan alat produksi akan mengakibatkan pengurangan pada upah seorang pegawai untuk menanggung kerusakan atau kehilangan itu sendiri. Para pegawai juga termasuk kelompok yang mudah digantikan oleh suatu bisnis dikarenakan tenaga kerjanya yang melimpah, berarti tidak memiliki daya tawar. Hal inilah yang menciptakan dinamika dimana mereka tidak memiliki kemampuan untuk menolak eksploitasi tanpa ancaman untuk digantikan oleh tenaga kerja baru dari pengangguran cadangan yang lebih setia dan putus asa akan eksploitasi struktural tersebut. Yang dibutuhkan oleh para pegawai toko ialah kesadaran kelas dan sistem yang mengeksploitasi mereka. Belum lagi menghitung perangkap subsistensi mereka seperti membayar uang kost atau kontrakan kepada rentenir yang mendesak, atau bahkan ketergantungan pada suatu bon atau hutang, yang alhasil mengendalikan kebebasan mobilitas si pegawai kepada sang kreditur.

Ada juga kelompok dari pegawai yang kontemporer seperti pekerja gig seperti ojek online, salah satu kelompok pegawai dalam kaum marhaenis dibawah mitra suatu korporasi besar. Ojek online dapat juga bekerja sebagai pengemudi ojek atau juga pengantar barang yang dikomisikan (seringnya makanan). Biaya bahan serta alat produksi mereka, seperti yang paling besar ialah BBM, terus mengikuti trend inflasi global, dengan harga jual yang ditentukan secara sepihak oleh korporasi tersebut untuk memenangkan kompetisi pasar dengan korporasi lain. Mereka sendiri tidak memiliki daya tawar untuk menaikkan tarif, alhasil hanya menerima harga apa adanya.

Buruh kerja, adalah bagian marhaen yang paling proletar diantaranya. Mereka tidak sama sekali memiliki alat produksi, melainkan hanya menyewakan tenaga kerja mereka sendiri. Untuk mencapai subsistensi per harian, mereka perlu menyewakan tenaga kerja penuh mereka kepada kapitalis demi upah harian yang kadang relatif murah. Mereka adalam kelompok yang paling direduksi nilai kemanusiaannya sebagai biaya variabel suatu industri. Mereka sendiri dialienasikan dari hasil produksi mereka, proses kerja mereka, bahkan jati diri mereka sebagai manusia. Mereka dialienasi sesama manusia juga dikarenakan kompetisi upah antar buruh kerja. Mereka ditindas secara kolektif oleh para imperialis-imperialis, dipekerjakan untuk rantai pasok global di mana nilai surplus mereka akan diambil oleh pusat kapital neoimperialis. Nilai ekonomi para buruh kerja ditentukan oleh waktu dan kontribusi tenaga kerja mereka dalam waktu tersebut. Jika mesin yang mereka gunakan meningkat dalam efisiensi, maka sebaliknya dari pengurangan jam kerja atau kenaikan upah kerja, mereka hanya akan meningkatkan hasil produksi yang pada akhirnya dicuri oleh sang majikan. Sistem neoliberalisme sendiri menciptakan reserve army of labor dengan cara membuat jutaan pengangguran secara artifisial untuk menghancurkan daya tawar seorang buruh. Jutaan manusia dengan sengaja tak diberdayakan di luar sirkulasi produksi agar mereka dapat digunakan sebagai senjata untuk menjaga agar daya tawar buruh kerja tetap rendah, supaya para buruh kerja tetap berada pada tingkat subsistensi yang rendah, serta menerima kualitas kerja yang buruk tanpa adanya kuasa untuk memberontak. Seringnya, dalam masyarakat Indonesia, keputusasaan akan eksploitasi ini dikomodifikasi lagi menjadi suatu perasaan seperti rasa syukur, dimana mereka mengubah narasi eksploitasi kapitalisme menjadi suatu hal yang harus disyukuri.

Berdasarkan analisis tersebut, kelompok-kelompok marhaen memiliki satu ciri khas dan nasib yang sama, yakni korban ekonomi dari penyusutan manusia. Seluruh bagian dari kelompok marhaen adalah pengelola kemiskinan yang bekerja untuk subsistensi daripada akumulasi. Pemangsa kaum marhaen tak lain lagi ialah mereka nekolim, oligopoli, serta kapitalis komprador lokal yang mencekik marhaen atau wong-wong cilik kita sendiri. Kekuatan revolusioner marhaen berada di kemandiriannya yang diambil oleh sistem eksploitasi. Kaum marhaen memiliki alat dan potensi untu kmemutus rantai ketergantungan agar dapat berproduksi diluar skema nekolim.